☪️💥
*MEWARISKAN MILITANSI DAKWAH*
*_(Dari Murabbi untuk Generasi Pelanjut)_*
Menjaga eksistensi dan orisinalitas merupakan problematika gerakan dakwah di manapun berada. Eksistensi dakwah dan nilai/karakter yang ori itu saling berkaitan.
Eksis saja tapi tidak ori, ini sama saja pepesan kosong. Casingnya aja yang tertampak sebagai gerakan dakwah Islam, namun kenyataan dalamnya jauh dari nilai-nilai kebenaran Islam. Ini namanya manipulasi dan jebakan batman.
Sebaliknya jika ada gerakan dakwah yang berusaha dengan keras menjaga karakter dan nilai ke-orian-nya, namun tidak eksis bahkan pudar dan hilang, ini namanya utopi.
Karenanya bagaimana seharusnya para aktivis dakwah dan murabbinya bahkan leadernya harus berjibaku dan bekerja team work untuk tetap menjaga gerakan dakwahnya selain tetap eksis namun juga ori.
Sejarah nabi dan rasul yang dijelaskan oleh Al Quran menggambarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sukses dalam menjaga keduanya, baik eksistensi dakwah maupun karakter dan nilai orisinalitasnya.
Hal ini terlihat dengan sangat jelas dalam keberhasilan mereka melakukan taurits atau pewarisan dakwah kepada generasi selanjutnya.
Dalam menjaga keaslian dakwah di masa yang akan datang, mereka berdoa,
رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al Baqarah: 129)
Dalam menjaga eksistensi dakwah yang tetap ori, dijelaskan dalam ayat ini,
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِـۧمَ وَإِسْمَـٰعِيلَ وَإِسْحَـٰقَ إِلَـٰهًۭا وَٰحِدًۭا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
"Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Mahaesa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya." (QS. Al Baqarah: 133)
Sudah barang tentu aktivis dakwah, leader dan para murabbinya harus mampu untuk melakukan hal sama, pewarisan dakwah yang mulus agar dakwahnya tetap terjaga eksis namun juga ori-nya terpelihara.
Pewarisan dakwah menjadi aktivitas yang sangat penting untuk meneruskan perjuangan dakwah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hal ini karena keterbatasan usia para pejuangnya. Emangnya berapa sih umur kita? Dalam hadits dinyatakan,
أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
"Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut" (HR. Ibnu Majah)
Pertanyaannya adalah berapa umur biologis kita? Berapa lama sudah umur fikroh kita? Berapa lama sudah umur dakwah yang sudah dilakukan? Berapa lama sudah hidup berjamaah? Dan berapa lama sudah umur kontribusi dalam dakwah? Berapa lama sudah engkau menjadi murabbi atau mutarabbi? Apakah umur dakwah ini sama dengan umurmu? Kira-kira berapa lama lagi futuhat dakwah tercapai? Apakah sudah tersedia sumber daya kader dan aktivis dakwah yang siap melanjutkan estafeta dakwah ini?
Sudah barang tentu semua ini harus menjadi satu perhatian yang besar bagi siapapun yang cinta dakwah dan perjuangan dalam pembinaan umat.
Namun hal ini hanya akan menjadi cita-cita kosong dan mimpi indah yang terbang dibawa angin seperti lirik sebuah lagu _"Gone with the Wind"_ bila ketiadaan para murabbi yang handal dan muntij.
Kalaupun ada namun masih belum mencukupi kebutuhan lapangan. Jadi siapakah yang akan menambahkannya? Engkaukah itu?[]ACha
☪️💥
*Madrasatuna*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar