Senin, 17 November 2025

Edith Wharton.





Kota New York, 1885.
Edith Wharton yang berusia dua puluh tiga tahun berdiri di rumah mewahnya di Fifth Avenue, dikelilingi kekayaan, para pelayan, dan ekspektasi yang begitu berat hingga dapat mencekik siapa pun. Ia menikah dengan terhormat, suaminya Teddy Wharton berasal dari keluarga yang terpandang, tinggal di lingkungan yang terpandang, dan memenuhi setiap harapan masyarakat.

Tapi ia benar-benar merasa sengsara.

Saat remaja, Edith pernah ketahuan menulis cerita di kamar tidurnya. Ibunya merampas halaman-halaman buku itu dari tangannya dengan perasaan ngeri.
"Gadis baik-baik tidak menulis," kata ibunya.
Itu bukanlah sekadar ketidaksetujuan...itu sebuah peringatan. Menulis adalah sebuah profesi. Suatu tindakan publik. Dunianya laki-laki. Bagi seorang gadis elit New York, menjadi kreatif hampir dianggap tidaklah pantas.

Tetapi Edith tetap menulis.
Ia menulis secara sembunyi-sembunyi.
Ia menyembunyikan manuskrip di dalam laci.
Ia menerbitkan puisi dengan nama samaran agar lingkaran pertemanan ibunya tidak berbisik-bisik.

Terlahir dengan nama Edith Newbold Jones—keluarga Jones itu sangat terpandang. ia tumbuh di puncak kekayaan Amerika. Gaun impor, pelayan yang tak terhitung jumlahnya, tur keliling Eropa, rumah-rumah yang dirancang untuk membuat decak kagum.
Gadis-gadis seperti Edith dibesarkan dengan satu tujuan:
menikah, menjamu makan malam, mempertahankan status keluarga, dan tak pernah atau tak usah lagi menginginkan apa pun.

Tetapi Edith menginginkan segalanya.

Sementara anak-anak istimewa lainnya bermain, ia melahap buku. Dalam tur keliling Eropa bersama keluarga, ia fasih berbahasa Prancis, Jerman, dan Italia. Pada usia sebelas tahun, ia telah menulis sebuah novel lengkap. Pada usia lima belas tahun, ia menulis novel lagi. Pada usia delapan belas tahun, diterbitkan, dengan nama palsu, tentu saja.
Karena ambisi dan bakat menulis seorang wanita waktu itu dianggap merepotkan dan memalukan.

Lalu tibalah saatnya pernikahan. Teddy Wharton tampan, kaya, memiliki koneksi yang luas—semua yang diinginkan orang tuanya. Tetapi Teddy tidak memiliki selera intelektual dan tidak tertarik pada ide serta pikiran istrinya.  Pernikahan mereka terasa dingin, tegang, dan hampa secara emosional.
Edith merasa terjebak dalam kehidupan yang dirancang untuk seseorang yang dianggap tak pernah ada.

Maka, ia mulai melakukan sesuatu yang radikal:
Ia menulis dengan nama aslinya.
Buku pertamanya The Decoration of Houses (1897) masih lolos dari kritik. Namun, buku berikutnya, The Greater Inclination (1899), adalah fiksi sejati. Sebuah komentar sejati.
Lingkaran sosialnya terguncang.
Perempuan boleh membaca novel.
Perempuan boleh menjadi tuan rumah klub buku.
Tetapi seorang perempuan yang menulis karya sastra serius? Yang menerbitkan kritik sosial yang tajam?
Sama sekali tak terpikirkan.

Edith sudah tak peduli lagi.

Pada tahun 1905, ia menerbitkan The House of Mirth—sebuah dakwaan pedas terhadap dunia kelas atas tempat ia dilahirkan. Buku itu menjadi buku terlaris dan menjadi skandal. Keluarga-keluarga kaya berbisik-bisik bahwa ia telah mengkhianati kelasnya. Mereka tidaklah salah.

 Lalu ia melakukan hal yang paling terlarang:
Pada usia 45, ia meninggalkan New York.
Pindah ke Prancis.
Berpisah dari Teddy.
Dan akhirnya menceraikannya pada tahun 1913.
Perceraian seorang perempuan dengan suaminya pada tahun 1913 terasa begitu memilukan. Edith melakukannya tanpa ragu.

Di Paris, ia menemukan apa yang tak pernah ia temukan di New York: seniman, pemikir, teman-teman yang menghargai pemikirannya. Ia berselingkuh. Ia menulis dengan lahap.

Lalu Perang Dunia I pecah—dan Edith Wharton, yang terlahir dalam kemewahan, tidak melarikan diri.
Ia tinggal di Prancis, mengorganisir bantuan pengungsi, membuka asrama bagi perempuan terlantar, memeriksa garis depan, dan menulis laporan perang yang begitu hidup hingga memukau khalayak internasional. Prancis menganugerahinya Legion of Honor.
Sementara itu, ia terus menulis.
Dan menulis.
Dan menulis.

Di akhir hayatnya, Edith Wharton telah menerbitkan 48 buku dan lebih dari 85 cerita pendek.  Ia menjadi perempuan pertama yang memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk The Age of Innocence (1921), sebuah novel yang mengkaji bagaimana masyarakat membungkam hasrat individu—kisahnya sendiri diabadikan sebagai karya seni.

Universitas Yale menganugerahkan gelar doktor kehormatan pertama yang pernah diberikan kepada seorang perempuan. Universitas-universitas mengajarkan karyanya. Para kritikus memuji kejeniusannya.
Masyarakat yang dulu mencoba membungkamnya kini terpaksa membacanya di ruang-ruang kelas.

Namun Edith tak pernah melupakan kurungan yang membuatnya memberontak.
Novel-novelnya mengungkap aturan-aturan yang mencekik perempuan:
tekanan untuk menikah
ketakutan akan skandal
rasa malu akan ambisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjaga Amal

*ONE DAY ONE HADITS* Senin, 9 Februari 2026 / 21 Sya'ban 1447 *Menjaga Amal * عن عبد الله بن عَمْرو بن العاص رَضِيَ الله عنهما، قَالَ: ق...