*Ketika yang Bertahan Bukan yang Terbaik*
Ada sebuah fenomena yang tidak hanya terjadi di perusahaan, tetapi juga bisa terjadi di lembaga, yayasan, bahkan organisasi dakwah: Seseorang yang lemah dalam kinerja, miskin inisiatif, dan tidak produktif bisa duduk di posisinya bertahun-tahun.
Sementara orang lain yang bersemangat, cerdas, dan membawa perubahan positif justru tidak bertahan lama, mereka pergi, kecewa atau tersingkir pelan-pelan.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi di tempat yang seharusnya berorientasi pada nilai dan amanah, bukan pada jabatan dan gengsi?
*Pertama, Karena alat ukurnya berbeda*
Dalam banyak organisasi dan lembaga, tolok ukur keberhasilan seringkali kabur.
Yang dihargai bukan hasil dan dampak, melainkan loyalitas, kesetiaan pada figur, atau sekadar "tidak bikin ribut."
Padahal Allah Swt. berfirman,
*"وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ..."*
*"Katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu..."* (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran utama dalam kerja adalah amal dan hasilnya, bukan lamanya seseorang bertahan di posisi.
Seorang yang hebat dan kompeten biasanya menilai dirinya dari dampak nyata dan kualitas kontribusi.
Sementara sebagian orang yang lemah dan tidak kompeten lebih menilai dirinya dari kemampuan mempertahankan jabatan, menjaga citra dan menghindari masalah.
Ia tahu banyak cara berpolitik, tapi tidak peduli cara berkontribusi.
Orang seperti ini bisa melewati badai tanpa perubahan, sementara orang-orang yang membawa "angin segar perubahan" justru dianggap mengganggu ketenangan lembaga.
*Kedua, karena beda antara keahlian teknis dan kecerdasan sosial*
Dalam dunia organisasi, kecakapan bekerja (technical skill) sering tidak seimbang dengan kecakapan berjejaring dan berkomunikasi (social-political skill).
Ada orang yang sangat ahli di bidangnya, tapi tidak piawai membaca dinamika sosial organisasi
Sebaliknya, ada yang minim kompetensi, tapi pandai menjaga hubungan, tahu kapan harus bicara dan kapan harus menghilang untuk menyelamatkan diri.
*Dampak yang akan terjadi di lapangan*
Ketika seorang yang lemah dan minim kompetensi bertahan, sementara seorang yang unggul tersingkir, konsekuensinya nyata:
*1. Talenta terbaik tidak terpakai.*
Mereka tersingkir karena dinilai sebagai biang ribut.
*2. Kinerja lembaga menurun.*
Semua bekerja sekadar menggugurkan kewajiban, bukan menorehkan prestasi.
*3. Inovasi macet.*
Energi habis untuk menjaga posisi, bukan memperbaiki sistem.
*4. Regenerasi terhambat.*
Karena kursi terlalu sakral, orang baru kehilangan ruang untuk tumbuh.
*5. Ruh perjuangan memudar.*
Aktivitas berubah menjadi rutinitas administratif tanpa semangat dan ruh ikhlas.
Ini adalah bentuk kemunduran yang sunyi, tidak meledak, tapi menggerogoti nilai dari dalam.
*Mencari Solusi*
*Bedakan antara ketenangan semu dan stabilitas sejati.*
Stabilitas tidak lahir dari diam, tapi dari keadilan, kejelasan dan kepercayaan.
*Ukur kinerja dengan dampak, bukan lamanya masa jabatan.*
Allah menilai dari hasil amal, bukan dari durasi posisi.
*Menghargai orang yang berbeda tapi konstruktif.*
Mereka bukan ancaman, tapi alarm dini agar lembaga tetap sehat.
*Bangun sistem evaluasi kepemimpinan yang rutin.*
Lihat siapa yang membangun manusia dan siapa yang justru mengurasnya.
*Ciptakan mekanisme suksesi yang nyata.*
Jangan biarkan masa depan lembaga dan organisasi bergantung pada satu orang atau satu kursi.
*Kesimpulan*
Organisasi yang sehat harus mengubah alat ukurnya. Ketika dampak, keikhlasan, dan hasil nyata menjadi mata uang resmi dalam lembaga, maka kursi akan ditempati oleh orang yang pantas. Dan orang-orang terbaik akan memilih untuk tetap berjuang di dalamnya.
Di sisi Allah, yang bernilai bukan siapa yang paling lama dan paling dahulu
tetapi siapa yang meninggalkan jejak kebaikan yang tetap hidup setelah ia tiada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar