Riwayat chat terlampir sebagai file "Chat WhatsApp dengan Morerich community2" di email ini.
Sabtu, 08 November 2025
Harian Disway
[10/10 13.33] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Jumat, 10 Oktober 2025
[13/10 11.18] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Senin, 13 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[14/10 07.24] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Selasa, 14 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[16/10 10.00] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Kamis, 16 Oktober 2025
[17/10 12.03] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Jumat, 17 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[18/10 11.23] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Sabtu, 18 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[19/10 13.25] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Minggu, 19 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[20/10 20.32] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Senin, 20 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[21/10 12.55] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Selasa, 21 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[22/10 14.01] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Rabu, 22 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[23/10 18.00] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Kamis, 23 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[24/10 13.09] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Jumat, 24 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[25/10 12.26] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Sabtu, 25 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[26/10 10.06] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Minggu, 26 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[27/10 08.03] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Senin, 27 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[30/10 12.16] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Kamis, 30 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[31/10 08.20] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Jumat, 31 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[2/11 16.30] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Minggu, 2 November 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[3/11 08.10] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Senin, 3 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[4/11 12.22] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Selasa, 4 Oktober 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[5/11 13.50] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Rabu, 5 November 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[6/11 15.39] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Kamis, 6 November 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[7/11 08.04] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Jumat, 7 November 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
[8/11 08.48] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Sabtu, 8 November 2025
Ikuti terus berita-berita terbaik dari kami. Selamat membaca!
Jumat, 07 November 2025
Cium Kaki
*Cium Kaki*
Oleh: Dahlan Iskan
Jumat 07-11-2025
--
Spontan. Saya mau mencium kakinya. Di depan umum. Di depan para pengusaha besar Tionghoa di Jakarta.
Begitu besar rasa terima kasih saya pada orang tua itu: The Nin King. Yang jenazahnya dimakamkan hari ini. Di pemakaman keluarga. Di Cipanas.
Cium kaki itu karena Pak The Nin King memenuhi permintaan saya: menyelamatkan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Proyek itu sudah telantar sekitar 20 tahun. Berbagai upaya meneruskannya gagal. Separo badan patungnya sudah terpasang --bagian bawah. Sedang bagian atas dan kepalanya masih berserakan di tanah.
Melihat gerakan saya akan mencium kakinya Pak The menghindar. Yang penting ia tahu bahwa saya tulus berterima kasih padanya.
Rabu kemarin saya mesong ke tempat persemayaman jenazah Pak The. Di Grand Heaven Jakarta. Lantai dasar rumah kematian itu dibuka semua. Hanya untuk pelayat satu jenazah Pak The --biasanya dibagi untuk enam jenazah.
Itu pun masih belum cukup. Orang yang mesong terlalu banyak. Sebagai pengurus PSMTI saya harus mesong dengan baju putih. Kebetulan seragam baru Wali Amanah Universitas Terbuka warna putih. Saya buka plastiknya. Saya pakai lengkap dengan bekas lipatannya.
Saya memberi hormat tiga kali di depan peti jenazah. Lalu hormat sekali ke serong kanan. Dan sekali ke serong kiri. Di kanan kiri peti itu berjajar keluarga Pak The. Anak-anaknya, menantu-menantunya dan cicitnya. Sedang istri Pak The, 84 tahun, duduk di kursi. Dia lebih muda 10 tahun dari suami.
Tidak semua dari enam anak dan enam menantu berjajar di situ. Harus bergantian. Yang memberi penghormatan tidak henti-hentinya. Harus diatur jadwal istirahat keluarga.
Pak The termasuk sedikit orang Tionghoa yang tidak mau ganti nama. Ia seperti ekonom Kwik Kian Gie, wartawan Goh Thjing Hok, atau pengacara Yap Thiam Hien. Saya lupa bertanya mengapa tidak mau ganti nama. Anak menantunya juga tidak berani bertanya. "Dugaan kami, itu karena papa sangat menghormati orang tua. Nama itu pemberian orang tua," ujar Haryanto, salah seorang menantunya.
Haryanto mendapat tugas menjadi pimpinan proyek GWK. Ia juga ikut memimpin Alam Sutera --real estate besar yang jadi salah satu ikon di grup usaha Pak The.
Ikon lainnya adalah Argo Pantes --usaha di bidang tekstil. Terintegrasi. Mulai membuat benang, mewarnai, membuat kain sampai mencetaknya. Ekspornya hampir ke seluruh dunia.
Masih ada satu ikon lagi yang Anda pun telah terbawa salah kaprah: paralon. Paralon itu sebenarnya merek pipa yang diproduksi perusahaan Pak The. Itulah pabrik pipa bukan besi pertama di Indonesia. Mereknya Paralon. Menguasai pasar. Merek Paralon topnya top.
Kini semua pipa jenis itu, apa pun mereknya, Anda menyebutnya pipa paralon.
Masih banyak usaha lain Pak The. Hampir di seluruh keperluan hidup manusia. Pak The pernah disebut sebagai salah satu dari 25 orang terkaya Indonesia.
Saya dengar Pak The menanamkan modal sampai Rp2 triliun di GWK. Pakai uang Alam Sutera. Itu sangat besar. Tidak main-main. Sampai pun para pemegang saham publik mempertanyakannya. Alam Sutera memang sudah IPO sejak lama.
Pembangunan kembali GWK itu akhirnya juga membawa berkah bagi seniman besar Bali: I.Nyoman Nuarta. Ia pematung kelas dunia. Mangkraknya GWK sangat menyiksa batinnya. Nyomanlah yang mengerjakan patung Garuda Wisnu Kencana itu. Patung raksasa.
Anda sudah tahu: patung itu tingginya 121 meter --termasuk pondasinya yang 46 meter. Itu jauh lebih tinggi dari patung Liberty di New York yang 93 meter --sudah termasuk pondasinya.
Sebenarnya proyek GWK sempat macet di tengah jalan. Ada permintaan Nyoman yang sulit dipenuhi Pak The. Tapi Bali segera jadi tuan rumah sidang IMF sedunia. Menko Luhut Panjaitan pun memanggil Nyoman dan pihak Pak The. Beres.
Dengan masuknya Pak The, Nyoman seperti hidup lagi --dalam pengertian yang sebenarnya. Selama proyek itu macet Nyoman terkena penyakit yang membahayakan: hepatitis C. Hebatnya Nyoman punya semangat sembuh yang luar biasa. Ia pelajari semua aspek hepatitis C. Akhirnya ia menemukan obatnya.
Obat itu obat baru. Belum resmi diakui oleh FDA-nya Amerika. Tapi sudah bisa dicoba. Harganya mahal sekali: Rp1 miliar --mungkin sekarang setara dengan Rp2 miliar. Nyoman berhasil membelinya. Ia sembuh total. Sehat sekali.
Kapan itu saya bertemu Nyoman di Bandung --tempat tinggalnya sekarang. Saya sepakat untuk datang ke rumahnya --tepatnya ke galerinya. Ketika menuju rumahnya itu hujan lebat tak kunjung reda. Jalan pun macet total. Akhirnya waktu pun berlalu.
Masih ada berkah lain: Nyoman memenangkan proyek yang jauh lebih besar: Istana Negara di Ibu kota Nusantara, IKN.
Nyoman, yang saat sakit hanya punya cita-cita tertinggi agar GWK terwujud sebagai karya akhir dalam hidupnya, ternyata bikin sejarah besar yang lain lagi di IKN. Boleh dikata GWK dan Istana Negara adalah Karya Nyoman Nuarta di hidup barunya.
Sebelum Covid yang lalu Pak The sakit. Setelah agak reda ia dibawa ke Singapura. Selama pandemi Covid pun Pak The tinggal di Singapura. Di sana kesehatannya on-off. Tanggal 2 November lalu Pak The meninggal dunia di sana. Di usia 94 tahun.
Pak The bukan pengusaha yang tiba-tiba besar. Usia 12 tahun ia sudah bekerja di tempat kelahirannya: Seorang, Bandung. Jualan kain. Malam hari. Pakai lampu penerangan petromax. Umur 14 tahun ia merantau ke Jakarta: ikut Omnya. Juga jualan kain.
Saya sendiri baru sekali ke GWK --itu pun ketika belum sepenuhnya jadi. Sepanjang kunjungan itu selalu terbayang wajah Pak The di sana. Di patungnya. Terutama di tebing-tebing labirinnya. (Dahlan Iskan)
Kamis, 06 November 2025
Online
*📣[INFORMASI PRESENSI DAN REVIEW WEBINAR HARI PERTAMA]*
Webinar Praktik Baik 32JP *"Trik Super Cepat: Mendesain Perangkat Ajar Inovatif menggunakan Chat GPT & Gemini AI"*
Terimakasih untuk bapak/ibu Guru yang telah antusias mengikuti pertemuan pertama malam ini, berikut link Presensi dan Review Webinar :
*LINK PRESENSI HARI KE-1:*
*LINK REVIEW WEBINAR:*
CATATAN PRESENSI :
1. Gunakan email yang sama dengan pendaftaran
2. Pastikan identitas yang dituliskan sudah benar karena untuk pembuatan sertifikat
Rabu, 05 November 2025
H pertama
*⏰ [INFORMASI PERTEMUAN PERTAMA] ⏰*
Salam, belajar bersama!
Terima kasih atas partisipasi Bapak/Ibu telah menyimak materi pertemuan pertama. Berikut ringkasan Webinar Malam ini: 👇
--- --- ---
*✅ Link Presensi Hari 1:*
*✅ Link Rekaman Materi:*
⛔ Jika terjadi traffic yang padat, silakan Bapak/Ibu bisa mencobanya secara berkala. Presensi akan tetap Kami buka.
--- --- --- --- --- --- --- --- ---
Selasa, 04 November 2025
Ketika yang Bertahan Bukan yang Terbaik
*Ketika yang Bertahan Bukan yang Terbaik*
Ada sebuah fenomena yang tidak hanya terjadi di perusahaan, tetapi juga bisa terjadi di lembaga, yayasan, bahkan organisasi dakwah: Seseorang yang lemah dalam kinerja, miskin inisiatif, dan tidak produktif bisa duduk di posisinya bertahun-tahun.
Sementara orang lain yang bersemangat, cerdas, dan membawa perubahan positif justru tidak bertahan lama, mereka pergi, kecewa atau tersingkir pelan-pelan.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi di tempat yang seharusnya berorientasi pada nilai dan amanah, bukan pada jabatan dan gengsi?
*Pertama, Karena alat ukurnya berbeda*
Dalam banyak organisasi dan lembaga, tolok ukur keberhasilan seringkali kabur.
Yang dihargai bukan hasil dan dampak, melainkan loyalitas, kesetiaan pada figur, atau sekadar "tidak bikin ribut."
Padahal Allah Swt. berfirman,
*"وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ..."*
*"Katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu..."* (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran utama dalam kerja adalah amal dan hasilnya, bukan lamanya seseorang bertahan di posisi.
Seorang yang hebat dan kompeten biasanya menilai dirinya dari dampak nyata dan kualitas kontribusi.
Sementara sebagian orang yang lemah dan tidak kompeten lebih menilai dirinya dari kemampuan mempertahankan jabatan, menjaga citra dan menghindari masalah.
Ia tahu banyak cara berpolitik, tapi tidak peduli cara berkontribusi.
Orang seperti ini bisa melewati badai tanpa perubahan, sementara orang-orang yang membawa "angin segar perubahan" justru dianggap mengganggu ketenangan lembaga.
*Kedua, karena beda antara keahlian teknis dan kecerdasan sosial*
Dalam dunia organisasi, kecakapan bekerja (technical skill) sering tidak seimbang dengan kecakapan berjejaring dan berkomunikasi (social-political skill).
Ada orang yang sangat ahli di bidangnya, tapi tidak piawai membaca dinamika sosial organisasi
Sebaliknya, ada yang minim kompetensi, tapi pandai menjaga hubungan, tahu kapan harus bicara dan kapan harus menghilang untuk menyelamatkan diri.
*Dampak yang akan terjadi di lapangan*
Ketika seorang yang lemah dan minim kompetensi bertahan, sementara seorang yang unggul tersingkir, konsekuensinya nyata:
*1. Talenta terbaik tidak terpakai.*
Mereka tersingkir karena dinilai sebagai biang ribut.
*2. Kinerja lembaga menurun.*
Semua bekerja sekadar menggugurkan kewajiban, bukan menorehkan prestasi.
*3. Inovasi macet.*
Energi habis untuk menjaga posisi, bukan memperbaiki sistem.
*4. Regenerasi terhambat.*
Karena kursi terlalu sakral, orang baru kehilangan ruang untuk tumbuh.
*5. Ruh perjuangan memudar.*
Aktivitas berubah menjadi rutinitas administratif tanpa semangat dan ruh ikhlas.
Ini adalah bentuk kemunduran yang sunyi, tidak meledak, tapi menggerogoti nilai dari dalam.
*Mencari Solusi*
*Bedakan antara ketenangan semu dan stabilitas sejati.*
Stabilitas tidak lahir dari diam, tapi dari keadilan, kejelasan dan kepercayaan.
*Ukur kinerja dengan dampak, bukan lamanya masa jabatan.*
Allah menilai dari hasil amal, bukan dari durasi posisi.
*Menghargai orang yang berbeda tapi konstruktif.*
Mereka bukan ancaman, tapi alarm dini agar lembaga tetap sehat.
*Bangun sistem evaluasi kepemimpinan yang rutin.*
Lihat siapa yang membangun manusia dan siapa yang justru mengurasnya.
*Ciptakan mekanisme suksesi yang nyata.*
Jangan biarkan masa depan lembaga dan organisasi bergantung pada satu orang atau satu kursi.
*Kesimpulan*
Organisasi yang sehat harus mengubah alat ukurnya. Ketika dampak, keikhlasan, dan hasil nyata menjadi mata uang resmi dalam lembaga, maka kursi akan ditempati oleh orang yang pantas. Dan orang-orang terbaik akan memilih untuk tetap berjuang di dalamnya.
Di sisi Allah, yang bernilai bukan siapa yang paling lama dan paling dahulu
tetapi siapa yang meninggalkan jejak kebaikan yang tetap hidup setelah ia tiada.
Ahlan Zohran
Ahlan Zohran
Oleh: Dahlan Iskan
Selasa 04-11-2025
(Calon Wali Kota New York, Zohran Mamdani.-Tangkapan layar/Twitter/X)
Pilwali di New York tinggal beberapa jam lagi. Karena itu kisah lanjutan serial Nisa ditunda besok. Kita doakan dulu Zohran Mamdani terpilih.
Sampai tadi malam Mamdani masih diunggulkan. Selisih kemenangannya tetap dua digit. Dibanding dua calon lain. Hampir pasti penganut Islam syiah itu akan terpilih --kecuali Presiden Donald Trump tiba-tiba memerintahkan menangkapnya.
Besok Anda akan tahu hasil Pilwali itu lebih dulu dari saya. Kita tunggu saja siapa perusuh yang tercepat unggah hasil Pilwali itu di kolom komentar pembaca Disway.
Mamdani tidak ambil pusing pengusaha-pengusaha besar tidak mendukungnya. Mereka membenci. Mamdani dianggap sosialis kiri --anti kemapanan.
Mamdani memang punya program membangun rumah-rumah sederhana. Bus kota akan digratiskan. Kenaikan ongkos sewa rumah akan dicegah. Akan ada patokan harga tertinggi sewa rumah.
Pajak untuk si kaya akan ia naikkan. Dari 7,6 persen ke 11 persen.
Lalu siapa yang membiayai kampanye Mamdani? Untungnya di New York berlaku aturan ini: cawali yang bisa mengumpulkan dana kecil-kecil dari warga kota biasa, pemerintah akan menggandakannya enam kali lipat.
Misalnya: 5.000 warga New York mau menyumbang kampanye Mamdani. Tentu nilai sumbangan mereka kecil-kecil. Mulai USD10. Sampai maksimal USD200. Tidak boleh lebih dari itu.
Lalu, misalnya, dari mereka terkumpul USD100 juta. Maka Pemda akan menambahkan dana enam kali lipatnya. Alias 600 juta. Berarti Cawali tersebut punya dana kampanye 700 juta.
Aturan tersebut untuk menghindarkan cawali dari kendali pengusaha besar. Agar wali kota tidak disetir oleh kepentingan mereka.
Sebagai cawali yang dibenci pengusaha besar Mamdani benar-benar dapat simpati dari rakyat biasa di New York. Dua bulan pertama pencalonannya Mamdani mendapat sumbangan dari rakyat biasa sebesar USD600.000. Berarti Mamdani sudah punya dana di awal kampanye sebesar USD4.200.000.
Dalam dua bulan pencalonan jumlah penyumbangnya sudah 6.500 orang lebih. Berarti rata-rata mereka menyumbang USD100. Artinya, banyak yang menyumbang USD200 tapi banyak juga yang hanya USD50.
Tujuan lain sistem itu: agar orang hebat yang tidak kaya tidak takut mencalonkan diri. Mamdani contohnya. Dua lawannya orang mapan semua: satunya mantan gubernur New York. Satunya lagi politikus lama dari Partai Republik.
Meski nama belakangnya Mamdani, jangan dikira Zohran Mamdani punya hubungan keluarga dengan Ebrahim Mamdani.
Anda sudah tahu siapa itu Ebrahim Mamdani: ilmuwan matematika Inggris berdarah Parsi. Ia penemu "Sistem Mamdani". Yakni artificial intelligence yang merumuskan sistem "Kalau" dan "Maka" (if and then).
Misalnya: If udara panas dan lembab then jalankan kipas. Contoh lain: If tekanan tinggi dan suhu rendah then buka katupnya.
Zohran Mamdani memang juga berdarah Parsi. Tapi leluhurnya sudah lama menyingkir ke India. Dari India ayahnya jadi imigran di Uganda. Zohran lahir di Uganda.
Lalu orang tua Zohran mengajaknya jadi imigran di Afrika Selatan. Sampai akhirnya jadi imigran di Amerika Serikat.
Zohran masuk sekolah di New York. Pun sampai lulus Universitas. Ia jadi aktivis muda kemasyarakatan. Lantas jadi anggota DPRD New York.
Umurnya baru 34 tahun dan itulah kelemahannya: belum pernah jadi eksekutif di pemerintahan. Padahal New York kota terbesar di Amerika. Terkaya di dunia.
Rakyat tidak peduli. Mereka sudah bosan dengan politisi yang itu itu juga. Saya ikuti pidato-pidato Mamdani. Lewat video. Juga kampanyenya.
Dialog langsungnya dengan warga angat menarik. Ramah. Rendah hati. Penuh empati.
Mamdani tidak menutup-nutupi bahwa ia Islam. Bahwa ia sosialis kiri. Toh politisi nasional tidak perlu merasa terancam. Ia tidak akan bisa jadi Capres Amerika --karena lahir di luar Amerika.
Dalam Pilwali tanggal 4 November besok, pemilih tidak hanya mencoblos salah satu dari tiga calon wali kota. Masih ada lima kartu suara lain. Pilwali ini ternyata dimanfaatkan sekaligus untuk referendum lima persoalan.
Misalnya: apakah rakyat setuju di sebuah distrik dibangun perumahan sederhana. Persetujuan rakyat diperlukan karena tata kota lama tidak mengakomodasikan lokasi untuk rumah sederhana.
Kartu lain berisi pertanyaan: apakah warga setuju dibangun stadion olimpiade di kawasan hutan lindung di satu lokasi.
Pertanyaan lain: apakah rakyat setuju peta kota New York diganti dengan peta digital.
New York sudah punya peta dalam bentuk kertas. Sejak tahun 1811 yang diperbaharui tahun 1898. Detail sekali. Sampai ukuran parit di satu RT pun ada petanya. Jumlah peta itu ratusan ribu lembar. Tersimpan rapi di gedung arsip.
Kalau rakyat setuju maka mulai tahun 2028 New York akan punya peta digital.
Serba minta persetujuan langsung ke rakyat adalah kekuatan demokrasi di Amerika --sesuatu yang orang seperti Trump tidak sabar.
Mamdani selangkah lagi jadi wali kota Islam pertama di kota besar di Amerika. Ahlan wasahlan Zohran. (Dahlan Iskan)
Informasi Mojokerto dan sekitarnya
Klik..
Oleh: Dahlan Iskan
Selasa 04-11-2025
(Calon Wali Kota New York, Zohran Mamdani.-Tangkapan layar/Twitter/X)
Pilwali di New York tinggal beberapa jam lagi. Karena itu kisah lanjutan serial Nisa ditunda besok. Kita doakan dulu Zohran Mamdani terpilih.
Sampai tadi malam Mamdani masih diunggulkan. Selisih kemenangannya tetap dua digit. Dibanding dua calon lain. Hampir pasti penganut Islam syiah itu akan terpilih --kecuali Presiden Donald Trump tiba-tiba memerintahkan menangkapnya.
Besok Anda akan tahu hasil Pilwali itu lebih dulu dari saya. Kita tunggu saja siapa perusuh yang tercepat unggah hasil Pilwali itu di kolom komentar pembaca Disway.
Mamdani tidak ambil pusing pengusaha-pengusaha besar tidak mendukungnya. Mereka membenci. Mamdani dianggap sosialis kiri --anti kemapanan.
Mamdani memang punya program membangun rumah-rumah sederhana. Bus kota akan digratiskan. Kenaikan ongkos sewa rumah akan dicegah. Akan ada patokan harga tertinggi sewa rumah.
Pajak untuk si kaya akan ia naikkan. Dari 7,6 persen ke 11 persen.
Lalu siapa yang membiayai kampanye Mamdani? Untungnya di New York berlaku aturan ini: cawali yang bisa mengumpulkan dana kecil-kecil dari warga kota biasa, pemerintah akan menggandakannya enam kali lipat.
Misalnya: 5.000 warga New York mau menyumbang kampanye Mamdani. Tentu nilai sumbangan mereka kecil-kecil. Mulai USD10. Sampai maksimal USD200. Tidak boleh lebih dari itu.
Lalu, misalnya, dari mereka terkumpul USD100 juta. Maka Pemda akan menambahkan dana enam kali lipatnya. Alias 600 juta. Berarti Cawali tersebut punya dana kampanye 700 juta.
Aturan tersebut untuk menghindarkan cawali dari kendali pengusaha besar. Agar wali kota tidak disetir oleh kepentingan mereka.
Sebagai cawali yang dibenci pengusaha besar Mamdani benar-benar dapat simpati dari rakyat biasa di New York. Dua bulan pertama pencalonannya Mamdani mendapat sumbangan dari rakyat biasa sebesar USD600.000. Berarti Mamdani sudah punya dana di awal kampanye sebesar USD4.200.000.
Dalam dua bulan pencalonan jumlah penyumbangnya sudah 6.500 orang lebih. Berarti rata-rata mereka menyumbang USD100. Artinya, banyak yang menyumbang USD200 tapi banyak juga yang hanya USD50.
Tujuan lain sistem itu: agar orang hebat yang tidak kaya tidak takut mencalonkan diri. Mamdani contohnya. Dua lawannya orang mapan semua: satunya mantan gubernur New York. Satunya lagi politikus lama dari Partai Republik.
Meski nama belakangnya Mamdani, jangan dikira Zohran Mamdani punya hubungan keluarga dengan Ebrahim Mamdani.
Anda sudah tahu siapa itu Ebrahim Mamdani: ilmuwan matematika Inggris berdarah Parsi. Ia penemu "Sistem Mamdani". Yakni artificial intelligence yang merumuskan sistem "Kalau" dan "Maka" (if and then).
Misalnya: If udara panas dan lembab then jalankan kipas. Contoh lain: If tekanan tinggi dan suhu rendah then buka katupnya.
Zohran Mamdani memang juga berdarah Parsi. Tapi leluhurnya sudah lama menyingkir ke India. Dari India ayahnya jadi imigran di Uganda. Zohran lahir di Uganda.
Lalu orang tua Zohran mengajaknya jadi imigran di Afrika Selatan. Sampai akhirnya jadi imigran di Amerika Serikat.
Zohran masuk sekolah di New York. Pun sampai lulus Universitas. Ia jadi aktivis muda kemasyarakatan. Lantas jadi anggota DPRD New York.
Umurnya baru 34 tahun dan itulah kelemahannya: belum pernah jadi eksekutif di pemerintahan. Padahal New York kota terbesar di Amerika. Terkaya di dunia.
Rakyat tidak peduli. Mereka sudah bosan dengan politisi yang itu itu juga. Saya ikuti pidato-pidato Mamdani. Lewat video. Juga kampanyenya.
Dialog langsungnya dengan warga angat menarik. Ramah. Rendah hati. Penuh empati.
Mamdani tidak menutup-nutupi bahwa ia Islam. Bahwa ia sosialis kiri. Toh politisi nasional tidak perlu merasa terancam. Ia tidak akan bisa jadi Capres Amerika --karena lahir di luar Amerika.
Dalam Pilwali tanggal 4 November besok, pemilih tidak hanya mencoblos salah satu dari tiga calon wali kota. Masih ada lima kartu suara lain. Pilwali ini ternyata dimanfaatkan sekaligus untuk referendum lima persoalan.
Misalnya: apakah rakyat setuju di sebuah distrik dibangun perumahan sederhana. Persetujuan rakyat diperlukan karena tata kota lama tidak mengakomodasikan lokasi untuk rumah sederhana.
Kartu lain berisi pertanyaan: apakah warga setuju dibangun stadion olimpiade di kawasan hutan lindung di satu lokasi.
Pertanyaan lain: apakah rakyat setuju peta kota New York diganti dengan peta digital.
New York sudah punya peta dalam bentuk kertas. Sejak tahun 1811 yang diperbaharui tahun 1898. Detail sekali. Sampai ukuran parit di satu RT pun ada petanya. Jumlah peta itu ratusan ribu lembar. Tersimpan rapi di gedung arsip.
Kalau rakyat setuju maka mulai tahun 2028 New York akan punya peta digital.
Serba minta persetujuan langsung ke rakyat adalah kekuatan demokrasi di Amerika --sesuatu yang orang seperti Trump tidak sabar.
Mamdani selangkah lagi jadi wali kota Islam pertama di kota besar di Amerika. Ahlan wasahlan Zohran. (Dahlan Iskan)
Informasi Mojokerto dan sekitarnya
Klik..
Langganan:
Postingan (Atom)
Menjaga Amal
*ONE DAY ONE HADITS* Senin, 9 Februari 2026 / 21 Sya'ban 1447 *Menjaga Amal * عن عبد الله بن عَمْرو بن العاص رَضِيَ الله عنهما، قَالَ: ق...
-
☪️💥 *MEWARISKAN MILITANSI DAKWAH* *_(Dari Murabbi untuk Generasi Pelanjut)_* Menjaga eksistensi dan orisinalitas merupakan problematika g...
-
*Cium Kaki* Oleh: Dahlan Iskan Jumat 07-11-2025 -- Spontan. Saya mau mencium kakinya. Di depan umum. Di depan para pengusaha besar Tionghoa ...
-
[10/10 13.33] +62 816-1920-966: Harian Disway Anda Edisi Jumat, 10 Oktober 2025 https://epaper.hariandisway.com/books/dbxt/ [13/10 11.18] +...