☪️
*APAKAH SUDAH DINYATAKAN?*
Salah satu yang harus menjadi perhatian utama para kader dakwah adalah menjaga dan memelihara keberadaan dakwahnya agar tetap wujud dan eksis.
Hal ini tentu saja tidaklah semudah bila hanya sekedar bicara atau mendiskusikannya. Di luar sana, banyak ancaman, tantangan, hambatan dan ancaman (ATHG) yang menjadi batu sandungan.
Ini tidak mengada-ada atau menakuti-nakuti, akan tetapi ini adalah jalan yang sudah digariskan terhadap gerakan dakwah dan para kadernya. Jalan dakwah adalah jalan yang penuh ujian dan cabaran sebagaimana firman Allah Ta'ala:
• أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
• "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (QS. Al Ankabut: 2-3)
Banyak orang merasa cukup ketika menyatakan diri sebagai Mukmin. Seolah pengakuan iman tidak mengandung konsekuensi bagi pelakunya. Padahal, pengakuan iman itu masih harus dibuktikan dalam bentuk sikap dan tindakan ketika menghadapi ujian dan cobaan.
Ayat di atas memberitakan keniscayaan adanya ujian bagi pengakuan iman bagi setiap orang untuk membuktikan kebenarannya.
Kata al-naas memberikan makna umum yang berarti meliputi seluruh manusia. Kaidah mengatakan bahwa ibroh itu karena keumuman ayat bukan karena kekhususan sebab.
Kata hasiba dalam ayat ini bermakna zhanna (menduga, mengira). Sedangkan huruf hamzah di depannya merupakan istifhâm inkari atau kata tanya yang bermakna penafikan atau pengingkaran, sehingga lafad yang jatuh setelahnya adalah sesuatu yang dinafikan atau diingkari. Karena itulah dalam ayat selanjutkan Allah tegaskan bahwa:
• "Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"
Bisa juga bermakna 'li al-taqri' wal-tawbîkh (celaan dan teguran). Artinya, mereka tidak dibiarkan begitu saja mengatakan telah beriman tanpa diuji dan dicoba seperti yang mereka kira. Mereka benar-benar akan diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan iman mereka.
Semua ujian itu berfungsi untuk membuktikan kebenaran iman seseorang dan bahwa ujian yang diberikan itu sesuai dengan kadar keimanan pelakunya. Sebagaimana hadits dari Dari Mush'ab bin Sa'id -seorang tabi'in- dari ayahnya, ia berkata,
• يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
• "Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?" Beliau Saw menjawab:
• « الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
• "Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi, dan Ahmad)
Setelah menegaskan adanya cobaan untuk menguji keimanan manusia, Allah Swt berfirman:
• وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۖ
• "Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka"
Ayat ini memberitakan bahwa ujian keimanan itu tidak hanya diberikan kepada kalian, namun juga umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, ujian keimanan merupakan sunnataullah yang berlaku di setiap masa. Yang dengan ujian dan cobaan itulah dapat diketahui pengakuan yang benar dan yang dusta. Allah Swt berfirman:
• فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا
• "Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar"
Dalam ayat yang lainnya, Allah berfirman,
• وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصّٰبِرِيْنَۙ وَنَبْلُوَا۟ اَخْبَارَكُمْ
• "Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu." (QS. Muḥammad: 31)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa hal ini bukan berarti ada keraguan pada pengetahuan Allah terhadap apa yang akan terjadi.
Makna yang dimaksud ialah agar Kami (Allah) menyatakan kejadiannya. Karena itulah Ibnu Abbas RA mengatakan sehubungan dengan dengan ayat ini bahwa makna na'lamu ialah naroo, yakni agar Kami melihat dengan kenyataan tentang kejadiannya, walaupun pada hakikatnya Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi masih belum terlahirkan atau ternyatakan.
Nah apakah kita-kita ini termasuk orang-orang yang sudah dinyatakan oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang benar imannya? Wallahu a'lam[]Acha
☪️
*Madrasatuna*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar