Rabu, 26 November 2025

DUA BENDA DIAM TIDAK BISA BERTEMU

DUA BENDA DIAM TIDAK BISA BERTEMU

Oleh: Dr. Muhammad Hamid Aliwa


Diam, secara linguistik, adalah lawan dari gerak. Suatu benda pasti diam atau bergerak. Suatu benda tidak bisa diam dan bergerak pada saat yang bersamaan.

Sesungguhnya dua benda diam tidak bisa bertemu. Ini adalah fakta yang pasti dalam kaidah tata bahasa, dalam prinsip-prinsip fikih dan penerapannya, dalam teori-teori ilmiah, dan dalam dinamika kehidupan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa:

– Gerak diperlukan agar terjadi pertemuan.

– Gerak diperlukan agar terjadi tindakan.

– Gerak diperlukan agar kontribusi dapat berlanjut.

Jika tidak, bagaimana suatu pertemuan dan tindakan dapat terjadi, dan kontribusi dapat berlanjut dengan diam dan tanpa adanya gerakan?

Tak diragukan lagi, dalam gerakan terdapat kebersihan dan keberkahan. Kebersihan bersumber dari gerakan yang benar dan bermanfaat. Air yang mengalir itu sendiri bersih dan menyucikan orang lain. Demikian pula, seseorang yang bergerak untuk kebaikan orang lain tidak hanya mempertahankan kesalehan dirinya sendiri, tetapi juga bergerak memperbaiki orang lain, membawa kebaikan yang mereka miliki kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, mereka memelihara kesalehan mereka sendiri, dan dengan memperbaiki jiwa orang lain, mendapatkan pahalanya.

Keberkahan dalam gerakan muncul dari kenyataan bahwa kesalehan individu yang hanya bermanfaat bagi pelakunya itu terbatas dan hanya menghasilkan sedikit pahala atau buah. Inilah yang diungkapkan Imam Hassan al-Banna dalam memoarnya, dengan mengatakan: 

"Saya percaya bahwa setiap gerakan yang manfaatnya tidak melampaui pelakunya itu terbatas dan tidak signifikan. Gerakan terbaik dan paling mulia adalah gerakan yang hasilnya bermanfaat bagi pelakunya dan orang lain—keluarganya, bangsanya, dan sesama manusia. Semakin besar cakupan manfaat ini, semakin besar pula kemuliaan dan signifikansinya."

Semoga Allah merahmati Imam Syafi'i, yang dengan fasih menangkap makna ini dan mewujudkan prinsip ini dalam syair-syairnya yang agung, dengan mengatakan:

Aku telah melihat bahwa air yang tergenang dapat merusak; 

jika mengalir, ia suci, tetapi jika tidak mengalir, ia tidak suci.

Singa, jika tidak meninggalkan kandang, tidak bisa berburu; 

Anak panah, jika tidak meninggalkan busurnya, tidak bisa mengenai sasarannya.

Matahari, jika tetap diam di tempat, akan melelahkan manusia, baik Arab maupun non-Arab.

Bergerak, Termasuk Karakter Islam

Islam adalah agama pergerakan dan aktivitas, bukan agama diam dan pasif. Islam mengajak umatnya untuk aktif dan terlibat secara positif dalam masyarakat tempat mereka tinggal, mendorong mereka untuk bergaul dengan orang lain, menghadiri pertemuan, dan menanggapi secara positif berbagai peristiwa dan keadaan, baik kecil maupun besar. 

Islam tidak membiarkan mereka berdiam diri secara pasif, yang berujung pada ketidakberdayaan dan kemalasan.

Kehidupan seorang Muslim sejati ditandai dengan vitalitas yang konstan dan kepositifan yang bermanfaat dalam segala aspek di alam semesta yang luas ini, di setiap tingkatan dan di setiap bidang. 

Hal ini menumbuhkan pemahaman dalam dirinya bahwa perannya dalam kehidupan ini bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Namun, ia juga memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap orang lain. 

Misalnya, Islam mewajibkannya memperlakukan orang tuanya dengan baik dan terhormat, menjaga tali silaturahmi, dan berbuat baik kepada tetangganya. 

Dalam urusan ibadah murni seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, ia dianjurkan memperluas lingkaran pergaulan dan meningkatkan kewajibannya. Ia diwajibkan menghadiri shalat berjamaah di masjid setiap hari, berinteraksi dengan lapisan masyarakat yang lebih luas, melampaui keluarga dan kerabat dekatnya. 

Setiap tahun, ia membayar zakat kepada sebagian masyarakatnya yang telah Allah berikan hak atas kekayaannya. Demikian pula, puasa dan ritual lainnya mendorongnya untuk berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakatnya. 

Dengan setiap ibadah, lingkup pengaruh dan interaksi seorang Muslim meluas, yang mengarah pada tingkat keterlibatan yang lebih besar dengan masyarakat sekitarnya.

Kemudian, ia diwajibkan bersikap positif terhadap masyarakat, dengan menjalankan kewajiban amar ma'ruf dan nahi munkar, yang menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik di atas umat lainnya.

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, dan beriman kepada Allah". (Ali Imran 110). 

Ia diwajibkan memenuhi kebutuhan masyarakat, membantu yang tertindas, meringankan beban orang lemah, bersedekah dan zakat, serta menyantuni anak yatim. 

Ia diwajibkan menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim, dan jika ia terbunuh karenanya, maka ia menjadi pemimpin di kalangan syuhada, sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw bersabda: 

"Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang laki-laki yang berani melawan penguasa yang zalim, memerintahkan dan melarangnya, lalu ia membunuhnya." 

Di atas semua itu, ada puncak kewajiban:  Berjihad di jalan Allah, membuat alam semesta tunduk kepada-Nya, memakmurkan bumi, dan berhijrah untuk menyelamatkan agama atau mempertahankannya. Ini hanyalah beberapa contoh dari berbagai bentuk gerakan memperjuangkan agama.

Gerakan Memperjuangkan Agama

Kita beranjak dari konsep abstrak tentang ketenangan dan amal menuju penerapannya yang nyata dalam kehidupan para dai dan pembaharu. Para dai harus aktif menyebarkannya, berdakwah di tengah masyarakat dengan risalahnya, menyatu dengan masyarakat dan lingkungan, dan tidak mengisolasi diri dari mereka. Ia tidak boleh menarik diri dan membiarkan kerusakan merajalela di sekitarnya, juga tidak boleh mengaku sedang mereformasi dunia sementara membiarkan kehancuran menjalar di dalam dirinya.

Penulis tafsir "Di Bawah Naungan Al-Qur'an" dan syahid Al-Qur'an mengungkapkan perlunya gerakan memperjuangkan agama:

"Pengalaman menegaskan bahwa mereka yang tidak bergabung dengan gerakan memperjuangkan agama ini tidak bisa memahami agama ini, betapa pun banyak waktu yang mereka curahkan untuk mempelajarinya melalui buku-buku—kajian yang dingin! Berbagai wawasan yang mencerahkan dari agama ini hanya bisa terungkap oleh mereka yang secara aktif bergerak memperjuangkannya dalam kehidupan manusia, bukan oleh mereka yang asyik dengan buku dan sibuk dengan kertas-kertas!

Sungguh, agama ini, dengan semya kebenaran, nilai, konsep, makna, dan hukumnya, tidak dapat tegak di muka bumi kecuali jika ia terwujud dalam diri orang-orang yang pertama-tama membawanya dan bergerak bersamanya di tengah masyarakat.

Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Hassan al-Banna sebelumnya: bahwa kebangkitan bangsa dan umat membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh, pengorbanan yang berharga, dan tindakan tanpa lelah yang melampaui sekadar kata-kata, dakwah, dan bimbingan. 

Dalam hal ini belua juga mengatakan:

"Nasehat, bimbingan, dakwah, persuasi, penjernihan jiwa, dan pemurnian akhlak adalah jalan para filsuf imajinatif, bukan para reformis aktivis. Kita adalah umat yang selalu aktiv beramal dan bergerak." (ars)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjaga Amal

*ONE DAY ONE HADITS* Senin, 9 Februari 2026 / 21 Sya'ban 1447 *Menjaga Amal * عن عبد الله بن عَمْرو بن العاص رَضِيَ الله عنهما، قَالَ: ق...