*Suplemen Fikrah*
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
*الشخصيَّةُ الإسلاميَّةُ المتكاملةُ*
_*Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah al-Mutakamilah (Kepribadian Islami Yang Menyeluruh)*_
Paling tidak ada dua perangkat yang harus dihidupkan dalam pribadi seorang aktivis dakwah agar dirinya masuk kategori _*Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah al-Mutakamilah*_.
*1️⃣ Komitmen Dengan Syariah (الالتزام بالشريعة)*
Ini merupakan modal asasi pertama dalam membentuk kepribadian Islami yang menyeluruh, yang mencakup pada:
- *Komitmen Dengan Aqidah Yang Benar (الالتزام بالعقيدة السليمة)*
Yakni aqidah yang kokoh dan didasari Al Quran dan As Sunnah dengan bingkai pemahaman Ahlussunah wal Jama'ah, serta aqidah yang bersih dari kesyirikan, nifaq, dan berbagai pemikiran dan aliran menyimpang.
- *Komitmen Dengan Ibadah Yang Shahih (الالتزام بالعبادة الصحيحة)*
Yaitu ibadah yang didasari keimanan dan keyakinan, dengan hati yang tulus dan bersih, dan dengan jenis dan cara yang benar dan sejalan syariah. Menjalankan yang wajib, dan menghidupkan yang sunah. Baik ibadah _badaniyah_ seperti shalat (berjamaah bagi laki-laki), tilawah, atau ibadah _maaliyah_ seperti zakat dan sedekah, atau _lisaniyah_ seperti zikir dan berkata-kata yang baik, atau yang menggabungkan kesemuanya seperti haji dan jihad.
- *Komitmen Dengan Akhlak Yang Terpuji (الالتزام بالاخلاق المحمودة)*
Komitmen terhadap akhlak yang terpuji (الالتزام بالأخلاق المحمودة) adalah tanda iman yang kuat dan bukti kepatuhan seorang muslim kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Akhlak seperti kejujuran, amanah, rendah hati, gemar menolong, dan kasih sayang bukan hanya memperindah pribadi, tetapi juga mendatangkan keridaan Allah Ta'ala serta memperkuat hubungan antar manusia.
Akhlak terpuji juga membawa dampak sosial dan keberhasilan dakwah yang besar. Masyarakat yang dipenuhi individu berakhlak akan menjadi lebih harmonis, adil, dan saling menghargai. Karena itu, komitmen pada akhlak bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga kontribusi langsung bagi kebaikan umat, keberhasilan dakwah, dan kemajuan peradaban.
- *Komitmen Dengan Dakwah Islam (الالتزام بالدعوة)*
Yaitu menjadikan dakwah sebagai perilaku utamanya. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Bicara, diam, serius, bergurau, dana, dan pikiran, bahkan darah dan nyawanya dia persembahkan untuk dakwah Islam. *Dakwah memiliki makna yang luas bukan hanya "ceramah" dan "khutbah", tapi semua pesona dalam diri seseorang yang membuat sebab hidayah Allah Ta'ala menyapa jiwa-jiwa manusia.*
*2️⃣ Komitmen Terhadap Jamaah (الالتزام بالجماعة)*
Ini merupakan modal asasi kedua untuk membentuk kepribadian Islami yang menyeluruh, yang mencakup pada:
- *Percaya Kepada Pemimpin (الثقة بالقيادة)*
Kepercayaan kepada kepemimpinan (الثقة بالقيادة) adalah fondasi penting dalam keberhasilan sebuah jamaah atau organisasi. Ketika anggota memiliki keyakinan terhadap integritas, kemampuan, dan visi pemimpinnya, maka mereka akan bekerja dengan lebih tenang, loyal, dan terarah. Kepercayaan ini juga memudahkan pemimpin untuk menggerakkan tim, menasihati, serta mengambil keputusan strategis tanpa menimbulkan kegaduhan atau keraguan.
Selain itu, kepercayaan kepada pemimpin menciptakan stabilitas dan kekuatan internal. Sebaliknya, hilangnya kepercayaan dapat memunculkan perpecahan, kecurigaan, dan melemahnya semangat kerja. *Oleh karena itu, di sisi lain, pemimpin wajib menjaga amanah, berlaku adil, dan menunjukkan keteladanan,* sementara para anggota perlu bersikap objektif dan mendukung selama pemimpin berada di atas kebenaran. Dengan sinergi seperti ini, sebuah komunitas akan mudah mencapai tujuan dan menghadapi tantangan dengan soliditas yang kuat.
- *Tsiqah Terhadap Ikhwah (الثقة بالاخوة)*
Kepercayaan terhadap sesama aktivis Islam adalah salah satu pilar yang menjaga kekuatan dan keharmonisan dalam sebuah jamaah. Ketika antar anggota saling percaya, prasangka baik tumbuh, kerja sama menjadi ringan, dan suasana ukhuwah terbangun dengan tulus. Kepercayaan ini menumbuhkan rasa aman, sehingga setiap orang dapat berkontribusi tanpa takut dicurigai atau direndahkan.
Sebaliknya, ketika kepercayaan hilang, hubungan melemah, kerja menjadi berat, dan syaitan lebih mudah menyusup dengan bisikan yang memecah belah. Karena itu, setiap anggota perlu menjaga amanah, kejujuran, dan transparansi agar kepercayaan tetap terjaga. Dengan saling percaya, ukhuwah menjadi kuat, hati terhubung, dan tujuan bersama lebih mudah dicapai.
- *Komitmen Dengan Ukhuwah Islamiyah (الالتزام بالأُخُوَّةِ الإسلامية)*
Yaitu persaudaraan karena aqidah, yang merupakan ikatan persaudaraan yang tertinggi dan terkuat dibanding ikatan lainnya. Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
_"Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara."_ (QS. Al Hujurat (49): 10)
Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan:
أي في الدين والحرمة لا في النسب، ولهذا قيل: أخوة الدين أثبت من أخوة النسب، فإن أخوة النسب تنقطع بمخالفة الدين،وأخوة الدين لا تنقطع بمخالفة النسب.
_Yaitu persaudaraan dalam agama dan kehormatan bukan dalam nasab. Oleh karenanya dikatakan:_
_Persaudaraan karena agama lebih kuat dari pada persaudaraan nasab, maka persaudaraan nasab akan terputus dengan berbedanya agama, sedangkan persaudaraan karena agama tidaklah terputus dengan berbedanya nasab."_ (Imam Al Qurthubi, Al Jami' Li Ahkamil Quran, 16/322-323)
- *Komitmen Dengan Qararat Jamaah (الالتزام بالقرارات)*
Yaitu komitmen dengan semua kebijakan dan keputusan jamaah, dan meyakininya secara sadar, bahwa kebijakan tersebut telah dihasilkan lewat pemikiran, konsultasi, musyawarah banyak pakar, landasan syariah, dan dengan cara yang benar. Bisa jadi seseorang anggota jamaah yang tidak setuju, punya pendapat lain secara individu, sudut pandang lain, namun dalam adab hidup berjamaah hendaknya keputusan tersebut tetap dipatuhinya. Imam Abu az Zinad (pembesar tabi'in) berkata:
وربَّما اختلفوا في الشيء فأخذنا بقول أكثرهم وأفضلهم رأيًا
_Bisa jadi para mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, maka kami akan mengambil pendapat mayoritas mereka dan yang paling utama._ (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid. 12, hal. 214)
- *Komitmen Dengan Kegiatan (الاتزام بالانشطة )*
Yaitu komitmen dengan semua program yang menjadi perangkat pembinaan dan perjuangan jamaah, baik halaqah pekanan, tatsqif, Lailatul Katibah, mabit, rihlah, mukhayam (kembara), munasharah Palestina, dll. Serta meyakini bahwa ini sarana yang begitu komplit untuk mentarbiyah dirinya baik sebagai muslim dan aktivis Islam.
=========
Demikianlah modal utama pribadi muslim yang menyeluruh, memiliki akhlak asasi dan akhlak da'i . Maka ...
- Tidak dikatakan lengkap, jika dia hebat dalam komitmen aqidah dan ibadah, tapi tidak disiplin dalam komitmen berjamaah; membangkang, infiradi, dan _najwa_ (gosip, bisik-bisik) terhadap jamaah, sering bolos dari kegiatan jamaah.
- Tidak pula dikatakan lengkap, jika dia hebat dalam hidup berjamaah, taat, tsiqah, rajin ... namun komitmen terhadap syariatnya kedodoran; masih percaya tahayul dan khurafat, jarang tilawah, sering meninggalkan shalat berjamaah, lalai terhadap kewajiban dan sunah, dsb.
Hendaknya dia berupaya melengkapi dirinya dengan keduanya. Wallahul Musta'an!
Wa Shalallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam
🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃
*✍️ Admin Madrasatuna*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar